Perdagangan internasional itu lebih dikenal dengan kegiatan ekspor-impor, pelakunya adalah eksportir dan importir.
Perdagangan internasional adalah kegiatan pertukaran barang dan jasa antara dua negara atau lebih.
Neraca perdagangan internasional adalah gambaran perbandingan antara besarnya nilai ekspor dan nilai impor. Jika nilai ekspor lebih besar daripada nilai impor berarti perdagangan mengalami surplus, sedangkan jika nilai ekspor lebih kecil daripada nilai impor maka perdagangan mengalami defisit. Jika antara nilai ekspor dan impor itu sama besar maka neraca perdagangan disebut seimbang.
Untuk meningkatkan manfaat dan mengurangi kerugian dalam perdagangan internasional suatu negara mengambil berbagai kebijakan:
a. penentuan tarif, bea masuk
b. pembatasan kuota
c. melakukan devaluasi, yaitu menurunkan nilai mata uang dalam negeri terhadap uang asing.
Perdagangan internasional timbul karena keterbatasan kemampuan suatu negara dalam memenuhi berbagai alat pemuas kebutuhan dalam negaranya.
Perdagangan internasional dapat memberikan pengaruh terhadap berbagai keadaan dalam negeri suatu negara, misalnya dalam hal:
a. jumlah dan jenis barang
b. tingkat harga dan penghasilan
c. lapangan kerja
Alasan diadakannya pembatasan perdagangan internasional antara lain:
a. untuk melindungi industri atau produksi dalam negeri
b. untuk meningkatkan permintaan produksi dalam negeri
c. meningkatkan daya saing barang ekspor
Kebijaksanaan pemerintah dalam bidang perdagangan internasional meliputi:
a. penentuan larangan impor
b. penentuan kuota: pembatasan impor
c. penentuan tarif bea masuk
d. pengendalian mata uang
e. penentuan kebijaksanaan standar: standar jumlah dan kualitas
f. penentuan prosedur birokrasi
g. penentuan subsidi: perlindungan terhadap industri dalam negeri
h. penentuan kontrak pemerintah
i. penentuan politik dumping
j. penentuan kebijaksanaan devaluasi, untuk meningkatkan ekspor
Kinerja perdagangan nasional masih cukup positif di tengah kekhawatiran menurunnya volume perdagangan internasional akibat ketidakpastian ekonomi dunia. Pada Maret 2012, kinerja neraca perdagangan masih mencatat surplus.
"Impor USD 16,43 miliar dan ekspor USD 17,27 miliar. Neraca perdagangan kita surplus USD 840 juta," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin saat memaparkan kinerja ekspor-impor di gedung BPS, Selasa (1/5).
Secara kumulatif, neraca perdagangan sepanjang kuartal I tahun ini juga masih tercatat surplus. Total ekspor Januari hingga Maret yang mencapai USD 48,53 miliar masih lebih tinggi dibandingkan impor pada periode Januari-Maret yang tercatat mampu menyentuh USD 45,85 miliar. Surplus perdagangan pada triwulan I (Januari-Maret 2012) tercatat sebesar USD 2,68 miliar.
Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (Januari-Maret 2011) atau year on year (yoy), surplus neraca perdagangan triwulan I tahun ini menipis. Secara kumulatif, neraca perdagangan selama triwulan I 2011 mencapai surplus USD 6,53 miliar. Sedangkan triwulan I tahun 2012, nilai surplus perdagangan hanya USD 2,68 miliar.
Sejumlah ekonom dan pemerintah menilai kerja sama perdagangan dengan Amerika Serikat, yang pertumbuhan ekonominya melambat, masih lebih menguntungkan Indonesia dibandingkan dengan negara lain yang pertumbuhan ekonominya lebih baik tetapi kapasitas ekonominya lebih kecil. Hal itu terkait dengan Pendapatan Domestik Bruto Amerika Serikat yang masih terbesar di dunia.
Bambang Prijambodo, Direktur Perencanaan Makro Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, mengungkapkan kerja sama perdagangan dengan Amerika Serikat menguntungkan Indonesia, sebab pasar kerja sama perdagangan dengan Amerika Serikat berpeluang melampaui pasar perdagangan Indonesia Indonesia dengan China.
Saat ini Produk Domestik Bruto China turun mendekati Produk Domestik Bruto Jepang. Pada 2010, Produk Domestik Bruto Amerika Serikat masih memimpin ekonomi dunia dengan besaran US$ 15,5 triliun, disusul China di tempat kedua sebesar US$ 7,7 triliun, dan Jepang di urutan ketiga sebesar US$ 6,1 triliun.
Bambang mengemukakan hal itu menanggapi penandatanganan kesepakatan pembelian 230 unit pesawat Boeing 737 antara produsen pesawat komersial Amerika Serikat Boeing Co dan maskapai penerbangan nasional PT Lion Mentari Airlines (Lion Air). Penandatanganan dilakukan di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara atau ASEAN di Bali dan disaksikan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.
“Ini adalah contoh luar biasa dari investasi perdagangan dan peluang komersial yang ada di kawasan Asia Pasifik,” kata Obama seusai menyaksikan langsung penandatangan kesepakatan tersebut. Lewat kesepakatan itu, Obama menyatakan Boeing akan membuka lebih dari 100 ribu lapangan kerja di Amerika Serikat.
Obama menekankan Asia Pasifik merupakan kawasan dengan pertumbuhan ekonomi yang baik sekaligus pasar ekspor utama Amerika Serikat. Berdasarkan data yang dipublikasikan Gedung Putih, kesepakatan antara Amerika Serikat dan beberapa negara ASEAN sebagai bagian dari lawatan Obama ke Asia Pasifik kali ini berpotensi mencapai nilai US$ 40 miliar, sekaligus akan menciptakan 127 ribu lapangan kerja domestik di Amerika Serikat.
Menurut data Badan Pusat Statistik, pada periode Januari-September 2010 neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat mengalami surplus US$ 2,73 miliar dengan ekspor sebesar US$ 9,68 miliar dan impor US$ 6,95 miliar. Surplus perdagangan pada periode yang sama tahun ini meningkat menjadi US$ 4,06 miliar dengan ekspor sebesar US$ 11,84 miliar dan impor US$ 7,78 miliar.
Latif Adam, Peneliti Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat akan berlangsung lebih baik jika Amerika Serikat menurunkan tarif bea masuk menjadi setingkat dengan tarif bea masuk negara-negara lain.
Saat ini, ekspor produk Indonesia ke Amerika Serikat dikenakan bea masuk yang tinggi, membuat daya saing produk-produk Indonesia rendah karena harganya menjadi mahal.
“Kalau kita mau dagang dengan Amerika Serikat, kita perjuangkan dulu itu,” jelasnya.
Sri Adiningsih, Ekonom Universitas Gadjah Mada, mengatakan kerja sama ekonomi dengan Amerika Serikat banyak memberi manfaat, karena banyak produk Amerika Serikat yang bersifat komplementer dengan produk-produk Indonesia, sehingga Amerika Serikat dapat menjadi pasar yang bagus.
Menurut Sri, yang perlu diperhatikan adalah negara pesaing Indonesia yang juga mengekspor produk ke Amerika Serikat, karena saat ini Amerika Serikat diserbu produk dari banyak negara terutama China yang menguasai hampir separuh pasar di sana.
(Value : Million US$)
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Kementerian
Perdagangan
Keterangan:
*) Angka sementara
**) Impor Termasuk Kawasan Berikat
Keterangan:
*) Angka sementara
**) Impor Termasuk Kawasan Berikat

0 komentar:
Posting Komentar